Musik Patriotik

Selasa, 26 September 2006 | 13:36 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kostum yang dikenakan pianis muda Kevin Aprilio, Jumat malam lalu, tidak seformal ayahnya, Addie M.S. Tubuh rampingnya hanya dibalut kaus putih dengan bercak-bercak hijau dan celana jins gedombrangan.

Penampilan Kevin itu bak langit dan bumi dengan Addie, yang malam itu memakai setelan hitam lengkap. Namun, perbedaan kostum tak menghalangi kolaborasi apik antara Kevin dan Addie dalam menghantarkan tembang Opening & Tatakau Monotachi dari permainan Final Fantasy VII: Advent Children karya Nobuo Uematsu.

Komposisi bertempo cepat tersebut dimainkan Kevin dengan cukup rapi. Kendati sempat sedikit terpeleset, penampilan Kevin tak kedodoran. Musibah tersebut lebih banyak muncul karena masalah gangguan teknis piano belaka. Dengan dukungan orkestrasi Addie, komposisi tersebut mampu mengantar penonton dalam aroma pertarungan Tifa dan Loz di Gereja Midgar.

Duet antara ayah dan anak ini menjadi bagian dari konser Musicademia 6 Twilite Orchestra yang diselenggarakan di Istora Senayan Jakarta. Setelah sukses lima kali menggelar Konser Musicademia sejak 2000, pada 2006, konser ini kembali digelar dengan tema Patriotissimo atau sangat patriotik.

Jangan bayangkan Anda akan mendengarkan lagu-lagu perjuangan ala Indonesia. Namun, pada konser tersebut Twilite Orchestra berusaha mengobarkan semangat patriotik para penonton melalui musik-musik penuh spirit dari film Superman, permainan Final Fantasy, hingga opera Aida. Memang beberapa lagu perjuangan tetap diperdengarkan, tapi porsinya tidak terlalu besar.

Seperti sebelumnya, pergelaran dibuka dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya, yang membawa penonton turut serta menyanyikannya. Tanpa jeda panjang, sekitar 2.000 penonton kemudian langsung disuguhi komposisi yang sudah sangat dikenal oleh para penggemar film Star Wars, yakni Throne Room dari Star Wars episode IV karya John Williams. Saat musik tengah mengalun, di beberapa sudut kursi penonton tampak pedang-pedang warna-warni ala kesatria Jedi yang turut bertarung mengiringi temaram cahaya.

Agar penonton yang awam dengan musik orkestra dapat terhibur, seperti biasa Musicademia tak lupa menampilkan artis-artis yang cukup populer. Kali ini yang tampil adalah finalis Indonesian Idol I Delon, mantan penyanyi cilik Sherina, pianis Kevin Aprilio, serta penyanyi tenor asal Australia, James Egglestone.

Egglestone menyapa penonton pada komposisi ketiga dengan lagu asal Negeri Pizza, O Sole Mio. Lagu yang liriknya ditulis Giovanni Capurro pada 1898 dan melodinya digubah oleh Eduardo di Capua ini rupanya sangat akrab di telinga kebanyakan penonton. Terbukti tak sedikit penonton yang ikut bersenandung saat lagi itu dinyanyikan. Dengan suaranya yang dahsyat, Egglestone mampu menghangatkan suasana. Sambutan dan tepuk tangan meriah mengiringinya bahkan sebelum ia selesai bernyanyi. Sambutan serupa tetap diberikan kepadanya saat ia menyanyikan lagu Nessun Dorma dan duet La Donna e mobile bersama Delon.

Sementara itu, Sherina–yang tampil setelah Egglestone–membawakan lagu 1.000 No Kotoba (Seribu Kata) yang diambil dari game Final Fantasy X-2 ciptaan komposer musik video game beken asal Jepang, Nobuo Uematsu, dengan gemilang. Dibalut gaun berwarna putih, gadis yang mulai beranjak dewasa ini mampu berkelit dari nada-nada sulit.

Seperti yang sudah-sudah, Musicademia kali ini juga menampilkan paduan suara dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta, Bogor, dan Bandung. Tahun ini, 140 anggota paduan suara dari unit Paduan Suara Mahasiswa (PSM) STIE Perbanas, PSM AgriaSwara Institut Pertanian Bogor, PSM GSJ Atma Jaya, serta Twilite Chorus turut mendukung Twilite Orchestra. Pergelaran ini juga menjadi ajang perdana kolaborasi antara Twilite Orchestra dan “adiknya”, yakni Twilite Youth Orchestra.

Namun, satu hal yang perlu dicermati dalam pergelaran kali ini adalah banyaknya komposisi asal Negeri Sakura yang ditampilkan. Misalnya penampilan kelompok Wasbi sebagai bintang tamu, meski musiknya tak seindah tampilannya yang “Jepang” abis. Grup J-Rock ini masih terkesan kedodoran, terutama pada manajemen sound mereka. Apakah Jepang memang begitu patriotik hingga komposisinya mendapat kehormatan?

SITA PLANASARI A

dari : .tempointeraktif.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: