Nada Karawitan

 Sabtu, 22 Maret 2008 | 10:53 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Awalnya adalah beat-beat pelan yang mengalun dari gamelan diiringi tiupan suling bambu membentuk harmonisasi nada-nada riang. Tak lama berselang, dua baris anak-anak berjoget kecil memasuki panggung dari dua sisi berbeda. Dengan gaya kaki yang mengangkang, tarian mereka mengundang sunggingan senyum penonton.

Setelah memberi salam penghormatan, lebih dari 20 anak kecil dari grup karawitan Sanggar Buruan Sari itu mengisi posisi pada alat musik masing-masing. Di atas panggung Auditorium Radio Republik Indonesia, Sabtu lalu, mereka pun memainkan musik Tabuh Telu Lempung Gunung menggunakan perangkat gamelan rindik.

Nada-nada riang meloncat-loncat dari tabuhan tangan-tangan kecil mereka. Tak urung, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie yang turut hadir ikut tersenyum sembari menikmati ketukan-ketukan nada mereka. Komposisi Tabuh Telu Lempung adalah salah satu kisah dalam tradisi lokal masyarakat Bali.

Sanggar Buruan Sari adalah salah satu penampil dalam Konser Karawitan Muda Indonesia Ketiga selama dua hari berturut-turut, Sabtu-Minggu lalu. Penampil lainnya adalah Sanggar Musik Awi Bambu Awi Sada (dari Banjaran, Bandung), Karawitan Jawa SMA Santa Ursula (Jakarta), dan Lingkung Seni Rinengga Sari (Bandung).

Selain yang tampil di Auditorium RRI, acara yang pertama kali digelar pada 2006 ini menampilkan siaran langsung audio dari dua stasiun RRI. Mereka adalah Musik Tradisi Banjar Muhidin dan Panting (yang disiarkan dari RRI Banjarmasin) serta Grup Wainambe dan Eyuser (dari RRI Jayapura).

Mereka selalu menyisipkan muatan lokal pada komposisi yang dimainkan. Grup dari Papua, misalnya, menambahkan tabuhan tifa (alat musik tradisional). Sedangkan dari Banjarmasin memainkan lagu-lagu lokal, seperti Paris Barantai dan Karindangan.

Penggagas Konser Karawitan Muda Indonesia, Edi Sedyawati, mengatakan karawitan adalah musik tradisi Indonesia yang utamanya berisi tabuhan gamelan. “Karawitan digunakan sebagai penunjuk musik tradisional Indonesia, disepakati pada 1950 lalu,” ujar Edi, guru besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

Edi mengungkapkan kegelisahannya melihat minimnya minat anak muda Indonesia memainkan musik tradisional. Kondisi itu diperparah oleh kepungan budaya asing dan tidak berminatnya dunia usaha mensponsori acara-acara karawitan. “Industri takut merugi,” ujarnya.

Hal itu diakui Menteri Aburizal Bakrie. Menurut bos grup usaha Bakrie tersebut, pengusaha memang tak memiliki keinginan mensponsori acara-acara karawitan yang menampilkan musik tradisional. “Makanya, pemerintah yang (seharusnya) menggalakkan,” ujar Aburizal, yang mengaku menyukai karawitan, khususnya irama Melayu dan tari Zapin.

Namun, Komang Riki Norwijaya, personel termuda di Sanggar Buruan Sari, tak peduli dengan ada atau tidaknya sponsor yang mendanai acara karawitan. “Yang penting saya senang (bermain gamelan),” ujar pelajar kelas 2 SD I Wanasari, Tabanan, Bali, itu. TITO SIANIPAR
dari : .tempointeraktif.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: