Nostalgia Pemutar Audio

Senin, 29 Oktober 2007 | 10:48 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:

Tak hanya rumah mode yang bisa meluncurkan produk retro alias pakaian atau mode yang kondang puluhan tahun silam. Dunia elektronik pun memiliki produk model retro tapi berteknologi terbaru.

Yamaha menerobos pasar audio/video (yang didominasi produk berdesain futuristik atau minimalis fungsional) dengan menghadirkan produk pemutar lagu format cakram kompak dan MP3 bernama CD-S2000 serta amplifier A-S2000.

Keduanya tampil dengan desain audio deck zaman baheula: tubuhnya kotak persegi dan bergaris kaku. Tubuh besar dan berat dihiasi tombol serta knob yang besar-besar. Yamaha mendesainnya dengan dua pilihan warna, yakni hitam dan perak.

Yamaha tampaknya membidik pasar kaum tua yang ingin bernostalgia dengan produk audio/video pada masa 1980-an. Meski bentuknya seperti ketinggalan zaman, kedua perangkat itu dipasangkan dengan teknologi terbaru.

Pemutar audio CD-S2000 ini sudah ditanami teknologi pemutar audio teranyar buatan Yamaha. CD-S2000 tak hanya mampu memutar keping cakram, tapi juga Super-Audio CD (SACD), model penyimpanan file audio terbaru.

Berbeda dengan audio player deck zaman dulu, CD-S2000 dikhususkan sebagai pemutar lagu format MP3 dan WMA. Output digitalnya memiliki konektor XLR dan Optical/Coaxial, yang lazim dipakai pada aplikasi perkabelan audio dan video profesional.

Disk drive pada CD-S2000 ditempatkan secara simetris dengan desain konstruksi pemutar lagu digital itu. Disk drive ditaruh di tengah. Adapun seksi audio diletakkan di bagian kanan, sedangkan seksi asupan tenaga ditaruh di sebelah kiri. Desain ini juga menghasilkan keseimbangan berat.

Adapun amplifier A-S2000, yang juga tersedia dalam dua corak warna, mampu menghasilkan suara jernih dan bening melalui teknologi amplifikasi generasi ketiga dari Yamaha, yakni Keseimbangan Floating & Power Amplifier. Teknologi ini membuat tiap channel menghasilkan output secara independen karena masing-masing mendapatkan asupan tenaganya sendiri.

Amplifier ini juga didesain dengan konstruksi isi perut yang simetris. Tujuannya, menghasilkan vibrasi eksternal dan efek yang stabil dan bagus.

Kedua perangkat ini, bila digabungkan, akan menyajikan output audio ACD/CD dan MP3/WMA dengan 190 watt per channel pada rentang frekuensi 20 hingga 20 ribu hertz. Setelan tenaga lainnya adalah dua kali 120 watt pada 8 ohm.

Koneksi di antara keduanya mengeliminasi munculnya interferensi dari perangkat lain yang memancarkan sinyal sistem audio. Suara berisik yang kerap terdengar pada sound system juga diminimalkan lantaran amplifier dan sumber tenaga listrik pada A-S2000 terpisah. Teknologi amplifikasi terbaru itu juga membuat amplifier ini bebas feedback.

Meski didesain bagi mereka yang ingin bernostalgia pada pemutar musik masa lalu, tampaknya perangkat ini hanya ditujukan bagi mereka yang berkantong tebal. Betapa tidak, harganya selangit. Bila ingin mendapatkan keduanya dalam satu paket, pembeli mesti merogoh US$ 3.400 atau sekitar Rp 31,2 juta dengan kurs rupiah 9.200 per dolar Amerika.

Bila ingin membeli secara terpisah, Yamaha membanderol CD-S2000 seharga US$ 1.824 atau Rp 16,8 juta. Adapun A-S2000 dijual seharga US$ 1.540 atau Rp 14,2 juta. Sebagai awalan, kedua perangkat akan diluncurkan ke pasar Jepang pertama kali pada pertengahan Desember mendatang.

Selain mahal, kedua perangkat yang bisa dioperasikan dengan remote control ini terlalu berat untuk ukuran perangkat teknologi masa kini. Bayangkan saja, pemutar CD-nya 15 kilogram dan amplifier-nya 22,7 kilogram. Alamak!

DEDDY SINAGA | ENGADGET | GIZMODO | WIKIPEDIA | PRODUCT-REVIEWS |AUDIO JUNKIES

dari : tempointeraktif.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: