Revolusi Ketiga Musik Digital

Selasa, 12 Juni 2007 | 09:36 WIB

TEMPO Interaktif, Palo Alto, California:

Ketika musik digital berformat MP3 masuk Internet, para penggemarnya bisa saling berbagi musik koleksi mereka–yang ditransfer dari cakram padat rekaman atau sumber lainnya–melalui jaringan pertukaran file peer-to-peer. Yang paling ramai kala itu adalah Napster.com, yang para penggunanya bisa berbagi musik tanpa harus mengeluarkan sepeser uang pun. Tapi kepopuleran Napster harus berakhir karena dianggap melanggar hak cipta.

Sebagai gantinya, muncul layanan penyedia musik digital berbayar. Sebut saja Insound, Rhapsody, dan Apple iTunes Music Store. Yang terakhir ini menjadi favorit berkat peranti pemutar musik digital yang cantik desainnya lagi laris manis di pasar: Apple iPod. Peranti ini hanya bisa memutar sejumlah file yang diunduh dari iTunes Store memakai aplikasi iTunes dengan bantuan komputer.

Keterbatasan itu mungkin menyadarkan para pengguna iPod untuk mulai menggerakkan revolusi ketiga musik digital. Dan, melalui Lala.com, revolusi itu sudah di depan mata. Apalagi gerakan ini didukung oleh perusahaan rekaman besar, seperti Warner Music Group.

Dengan ruang penyimpanan gratis yang diberikan Lala.com, pemilik iPod bisa mengunggah perpustakaan musik digitalnya yang berasal dari iTunes. Setelah tersimpan, perpustakaan musik itu bisa diakses dari komputer mana pun yang terkoneksi ke Internet. Para pemilik perpustakaan juga bisa saling berbagi akses.

Lala.com berdiri tepat setahun lalu. Pendirinya Bill Nguyen. Situs web yang berbasis di Palo Alto itu memperdagangkan CD musik secara legal. Lebih dari 500 ribu CD telah diperjualbelikan sejak Lala.com diluncurkan. Pada akhir pekan lalu, Lala.com meluncurkan layanan barunya itu: berbagi musik online bagi pengguna iPod.

“Sebelum hari ini, musik di-ripped–istilah untuk ekstraksi audio digital–dan terperangkap di PC dan Mac dengan aplikasi semacam iTunes,” ujar Nguyen. “iPod adalah peranti musik portabel canggih yang pernah diciptakan. Dan, sebagai penggemar iPod, kami ingin menciptakan layanan yang memadukan kenyamanan web dengan portabilitas dan fungsi sebagai sebuah platform yang benar-benar universal,” dia menambahkan.

Lala.com telah memiliki kesepakatan untuk menjual 200 ribu lagu dari Warner Music Group Inc. dengan harga US$ 99 sen per lagu. Pelanggan Lala.com bisa memainkan musik Warner itu secara gratis. Lala.com akan membayarkannya kepada Warner US$ 1 sen setiap seseorang mendengarkan sebuah lagu.

Kebanyakan situs layanan musik online menerapkan biaya berlangganan atau memberikan sampel lagu sepanjang 30 detik bagi pelanggannya. Misalnya Napster Inc., yang memiliki 830 ribu pelanggan memiliki biaya langganan dan iklan untuk menunjang operasionalnya.

Lala.com tak mengandung iklan. Pendapatannya berasal dari pelanggan yang membeli CD atau menukarkan CD bekas pakainya yang dikenai biaya US$ 1 per cakram padat. Hingga kini, situs itu memiliki 300 ribu pelanggan. Perusahaan yang memiliki 23 karyawan itu harus membayar US$ 140 juta untuk biaya lisensi selama dua tahun. Eksekutif Lala.com kini sedang menjajaki kerja sama dengan big label lainnya, seperti Sony BMG, EMI, dan Universal.

pcmag | earthtimes.org | sci-tech today | ap | geek | dody

dari : tempointeraktif.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: