Tertangkapnya Penjiplak Musik

Selasa, 06 Maret 2007 | 11:39 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Kalangan musik klasik di Inggris tentu tak asing dengan nama Joyce Hatto. Ia adalah pianis perempuan Inggris terkenal, yang meninggal tahun lalu akibat penyakit kanker. Untuk menggambarkan bakat musiknya, Jeremy Nicholas, seorang kritikus, menyebutnya sebagai salah satu “pianis terbesar Inggris” yang pernah hidup.

Setidaknya ada 100 rekaman permainan Hatto yang telah diterbitkan oleh perusahaan rekaman milik suaminya, William Barrington-Coupe, termasuk karya-karya sulit, seperti Transcendental Etude (Franz Liszt), etude lengkap Frederik Chopin yang diaransemen oleh Leopold Godowsky, dan beberapa concerto dari Sergei Rachmaninov.

Permainan Hatto juga mengundang decak kagum kritikus. “Bahkan pada repertoar yang menakutkan sekalipun, keseimbangannya saat memainkan piano mengundang kekaguman. Pianonya menghadirkan kehangatan, kecintaan, dan kemanusiaan ke hadapan Anda, setiap saat,” ujar Bryce Morrison, kritikus dari majalah musik klasik ternama, The Gramophone.

Namun, kesempurnaan Hatto tercemar dengan skandal yang ditemukan oleh kritikus The Gramophone lainnya, Jed Distler. Skandal itu terungkap berawal dari kiriman surat elektronik dari seorang analis finansial dari Mount Vernon, New York, Brian Ventura, kepada Distler.

Ventura mengaku ketika ia hendak menaruh rekaman permainan Hatto, Transcendental Etudes, ke situs toko digital iTunes, pangkalan data peranti lunak iTunes yang menggunakan teknologi Compact Disc Database, milik perusahaan Gracenote, mengenalinya sebagai rekaman permainan piano yang telah dibuat oleh Laszlo Simon, pianis asal Hungaria.

Setelah dicek, ternyata Ventura juga menemukan banyak kesamaan antara permainan Hatto dan Simon. Hasil penelitian Distler pun menemukan bahwa 10 dari 12 musik yang dibawakan oleh Hatto sangat mirip dengan permainan Simon, baik dari segi tempo, aksen, dinamika, maupun aspek-aspek lainnya.

Ujung-ujungnya ketahuan juga, ternyata pujian kepada Hatto memang seharusnya dialamatkan kepada Simon. “Saya melakukannya demi istri saya,” ujar suami Hatto, William Barrington-Coupe. Barrington-Coupe mulai mengaku melakukan manipulasi terhadap rekaman musik istrinya saat mentransfer format rekaman istrinya dari kaset ke rekaman digital.

Sebab, saat istrinya masih hidup, penyakit kanker indung telur membuatnya tak dapat lagi bermain prima. Hal itu membuat Barrington-Coupe mencari rekaman pianis yang ia pandang memiliki karakter yang sama dengan Hatto, yaitu Laszlo Simon.

Barrington-Coupe memanipulasinya secara digital, dengan menyatukan kedua permainan serta melakukan proses re-equalise dan rebalance. Simon tentu geram mengetahui hal ini. “Saya tidak keberatan bila uang saya dicuri. Tapi saya tak sudi bila yang dicuri adalah karya seni saya,” ujar Simon.

Tapi tak hanya karya Simon yang dibajak. Barrington-Coupe ternyata juga mengambil penggalan-penggalan permainan pianis lain, seperti Marc-Andre-Hamelin, Paul Kim, Horacio Guiterrez, Vladimir Ashkenazy, Chen Pi-hsien, dan Minoru Nojima.

Teknologi memang dapat digunakan manusia untuk memanipulasi sesuatu. Tapi sebuah manipulasi ternyata juga dapat diungkap oleh teknologi lainnya.

theindependent | gramophone | wikipedia | indra darmawan

dari : tempointeraktif.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: