Eksplorasi Yann Tiersen

Sabtu, 02 Desember 2006 | 16:17 WIB

Raungan gitar mengaum dalam nada tinggi. Efek suara yang timbul secara artifisial menyuarakan bunyi khas. Hal sama pernah dilakukan Edward van Halen dalam tembang Poundcake, menimpa fret gitar dengan mesin bor. Bermaksud tak sekadar mengekor, sang gitaris melakukan eksplorasi dengan bermain volume dan handling. Inilah satu tembang milik Yann Tiersen berjudul La Perceuse.

Musisi dan komposer asal Prancis ini unjuk gigi di Jakarta, Kamis malam lalu, atas prakarsa Centre Cultural Francaise. Yann Tiersen dikenal sebagai pencipta musik score untuk film Good Bye Lenin dan Amelie. Tapi malam itu, dia cenderung tampil dalam bentuk band diiringi Ludovic Morilllon (drum), Stéphane Bouvier (bas), Marc Sens (gitar), dan Anne-Gaêl Bisquay (kontra bas).

Konser musisi kontemporer ini merupakan bagian dari perjalanan panjang tur album baru bertajuk Les Restrouvailes. Ini sebuah album yang kontemplatif, unik, serta blending musik klasik dan bebunyian yang luas. Album dengan spektrum musik yang luas dan bebas. Tapi malam itu Tiersen lebih suka bermain dalam format band dengan balutan rock dan pop. “Album studio dan live panggung saya selalu berbeda biar proses kreativitas tak terhenti,” katanya.

Bak dua kepribadian yang bertolak belakang, output rekaman album dan live sangat jauh. Tak bisa ditarik benang merah jika membandingkan dua media ini. Salah satunya eksplorasi gitar rock ala Van Halen di atas. Begitu juga tembang Secret Place, yang penuh perenungan, menjadi liar di atas panggung. Ini mencuatkan efek melengking dan feed back suara gitar. “Dengan begini, saya merasa terus bergerak tak berhenti,” ungkapnya.

Yann Tiersen malam itu lebih sering memainkan gitar rhythm dan vokal. Namun, pada komposisi lagu Le Quarter, dia meraih biola dan memainkan dengan berdecit-decit. Tiersen memang menguasai banyak alat musik, seperti piano, gitar, keyboard, biola, mandolin, dan banjo. Tak aneh jika ia enggan mendefinisikan seperti apa musiknya.

Sejatinya, musisi multitalenta ini berangkat dari pendidikan musik klasik. Ia masuk konservatori pada usia 6 tahun dengan pilihan instrumen piano dan biola. Pada usia 13 tahun dia merambah musik rock dengan membentuk satu grup bernama Wart. Ketika grupnya bubar, Tiersen melanjutkan penelusuran musiknya dengan piano dan biola. “Sekarang, setelah semua itu, saya memilih gitar untuk bereksperimen,” kata Tiersen.

Instrumen gitar inilah yang malam itu merobek semua komposisi asli dari albumnya. Hal itu cukup mengejutkan bagi yang telah memiliki album Tiersen. Sebab, dia mengemasnya lebih jamak sebagai tampilan band, mereduksi bebunyian renik dan unik, serta menjadikan spektrum musiknya lebih ringan. Menurut dia, perbedaan ini sebagai wujud ajakannya untuk berjalan-jalan di sisi lain.

Tiersen telah menghasilkan 12 album. Album pertamanya, La Valse Des Monsters, dibuat secara indie dan semuanya instrumental. Pada album kedua, Rue des Cascades, dia mengajak seorang penyanyi untuk menambah warna musiknya.

Tonggak yang membuatnya menjadi sangat terkenal ketika ia membuat soundtrack film Amelie. Tak lama setelah film ini dirilis, album tersebut laku terjual 1,4 juta kopi. Kesuksesan dalam dunia film bertambah ketika dia ikut menggarap soundtrack film Good Bye Lenin.

ANDI DEWANTO

dari : tempointeraktif.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: