Jazz Menyulap Indonesia Jadi Negeri Kaya

JJF 2008

Senin, 10 Maret 2008
Penampilan Java Jazz Festival (JJF) 2008 yang disebut-sebut terakbar di dunia selesai sudah Senin dini hari tadi. Itu ditandai dengan berakhirnya aksi pentas klub jazz Bandung, Jam Session, di halaman parkir VIP Jakarta Convention Center. Penonton tampak benar-benar puas menyaksikan gaya Jam Session yang mengandalkan pesonanya pada sejumlah instrumen musik tradisional. Musik jazz yang diketengahkan pun lebih banyak musik-musik etnis Sunda yang aransemennya digarap rapi sehingga benar-benar jazzy.
 

Itu sebabnya tatkala Rita, vokalis Jam Session, usai melantunan “Pileleyan” (perpisahan), ramai-ramai penonton mendaulatnya dengan kalimat seragam: Ayo lanjut terus, sampai subuh… Ayo lanjutkan…

Tetapi jam sudah menunjukkan pukul 01.20 Senin dini hari, berarti pertunjukan Jam Session sudah melewati batas akhir 20 menit. Dan, itulah pertunjukan pamungkas Java Jazz Festival 2008. Pertunjukan ini dijadwalkan berlanjut lagi tahun depan.

Bagaimana penilaian penonton terhadap keseluruhan acara JJF 2008? Banyak kalangan menilai JJF kali ini meraih sukses luar biasa. Kepala Badan Kerja Sama Fiskal Depkeu, Anggito Abimanyu yang ditemui di lokasi JJF, misalnya, menilai pesta jazz kali ini berhasil menyulap Indonesia menjadi negeri kaya.

“Bayangin aja, mungkin ada sekitar 60 sampai 70 ribu penonton yang membeludak di lokasi pesta jazz ini. Kalau dipukul rata setiap penonton menghabiskan uang Rp 1 juta, berarti besar sekali nilai rupiah yang tersedot di ajang JJF 2008 ini. Apalagi festival ini digelar selama tiga hari berturut-turut dan selalu disesaki penonton,” ujar Anggito Abimanyu.

Effendi Simbolon, anggota DPR, yang juga ditemui ikut berdesakan menonton Manhattan Transfer di Plenari Hall juga menuturkan, pesta jazz kali ini benar-benar sukses. “Jazz ini tidak sekadar melenturkan kebekuan, tapi juga bisa membangkitkan nama besar Indonesia. Saya puji penyelenggara acara ini. Saya dapat kabar banyak wisatawan dari luar negeri datang khusus ke Jakarta hanya untuk menonon jazz ini,” ujar Effendi yang semalam tampil santai bersama istrinya dengan hanya mengenakan t-shirt dan sepatu karet.

Sebelumnya, dalam acara jumpa pers di ruang Krakatau JCC, Peter F Gonta yang membidani penyelenggaraan JJF sejak awal (tahun 2005) hingga tahun ini membenarkan, jumlah penonton terus meningkat sejak awal pementasannya tahun 2005 hingga semalam. “Tahun 2005 jumlah penonton hanya sekitar 40 ribu. Tahun 2006 sekitar 50 ribu. Tahun 2006 meningkat lagi, begitu juga di tahun 2007. Tahun ini sekitar 70 ribu penonton. Itu merupakan jumlah terbanyak,” ujar pengusaha yang juga penggila jazz ini.

Untuk sekali masuk di JJF 2008, tiap penonton harus merogoh koceknya untuk beli tiket harian seharga Rp 500 ribu. Di dalam lokasi festival, jika ingin menyaksikan pertunjukan khusus, penonton harus beli lagi tiket seharga Rp 250 ribu hingga Rp 350 ribu.

Lokasi JJF dilengkapi dengan 19 panggung untuk 350 kali pertunjukan, juga ada food area yang menyajikan beragam menu makanan dan minuman segar. Sedangkan jumlah artis yang dilibatkan mencapai ribuan orang, termasuk di antaranya 1.500 artis jazz mancanegara.

Beberapa artis jazz papan atas dunia yang sejak awal diharapkan hadir, seperti Matt Bianco dan Santana, ternyata batal hadir. “Santana punya alasan menolak hadir karena Indonesia dinilainya sebagai negara perusak lingkungan. Matt Bianco? Alasannya terlalu mengada-ada. Dia terlalu banyak minta keistimewaan, mulai dari tiket pesawat sampai pengawalan. Padahal, artis lain yang diundang mendapat fasilitas biasa-biasa saja. Jadi Matt Bianco tidak hadir no problem, toh tidak mengurangi semangat artis asing lain menunjukkan kebolehannya yang benar-benar prima,” ujar Peter.

Sementara Menbudpar Jero Wacik yang hadir dalam jumpa pers itu mengaku bangga dengan penyelenggaraan JJF 2008. Ketika dikabari Hotel Century Park, Sultan, dan Aston-yang kebetulan berdekatan dengan lokasi JJF 2008-dipenuhi wisatawan asal Jepang, Australia, Malaysia, dan Singapura, bahkan dari negara-negara Eropa dan Amerika Serikat yang khusus ke Jakarta ingin menonton jazz, Jero Wacik menilai itulah fakta bahwa JJF besar dukungannya terhadap pelaksanaan Visit Indonesia Year 2008. “Saya yakin target tujuh juta wisman bisa terpenuhi. JJF saja bisa menyumbang lebih dari 2.000 orang wisman, belum yang lain-lain. Dalam waktu dekat kami juga akan menggelar perlombaan golf kelas dunia di Bali. Semua itu, termasuk JJF, besar manfaatnya untuk mengembalikan citra Indonesia sebagai destinasi wisata yang aman dan nyaman di dunia,” ujar Jero Wacik.

Selesai memberi keterangan pers, Jero Wacik menaiki tangga lantai dua Plenari Hall dan memperhatikan dengan seksama gaya penonton jazz yang tampak memadati pintu masuk Ruang Ekshibisi A (stage 1), Ruang Ekshibisi B (stage 2), dan Ruang Cendrawasih 1, 2, dan 3. “Saya yakin tidak semua penonton, apalagi yang muda-muda, adalah fanatisme jazz. Mungkin mereka hanya sekadar mencari hiburan. Tapi, apa pun itu, Java Jazz Festival kali ini sukses besar,” lanjut Menbudpar sambil menyeruput minuman hangatnya.

Dari 19 panggung jazz yang ada di lokasi JJF hingga semalam, agaknya penampilan kelompok Incognito di Plenary Hall-lah yang mendapat respons penonton paling banyak. Untuk menyaksikan kelompok jazz dari Inggris pada pukul 22.15 WIB itu, penonton rela berdesakan selama hampir satu jam di depan pintu masuk.

Dan penonton memetik buah kesetiaannya berdesakan di depan pintu itu ketika Maysa Leak, salah seorang vokalis Incognito, menampilkan lagu lawas Stil a Friend of Mine. Lagu itu rupanya disukai di Indonesia. Gemuruh tepukan juga diberikan kepada kelompok The Manhattan Tranfer ketika tampil pamungkas di Asembly 1 mulai pukul 22.45 WIB.

Jauh sebelum itu, Omar Sosa, jazzer dari Afrika kelahiran Kuba, pada pukul 15.00 juga berhasil menunjukkan kebolehannya memainkan jazz dengan instrumen andalannya, piano dan perkusi. Begitu juga Renee Olstead dan Ron King Band, mendapat riuhnya tepukan penonton yang memadati Plenary Hall sejak pukul 17.00 WIB. Agaknya Renee yang cantik itu pantas menjadi bintang JJF kali ini. (Ami Herman)

dari : suarakarya-online.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: