“A Legendary Diva” Satu Lagi Biografi Titiek Puspa

Jakarta – ”Dia hebat, dia pantas,” kata Alberthiene Endah, penulis biografi Titiek Puspa, A Legendary Diva, yang diluncurkan Senin (10/3) di Hotel Mulia Senayan, Jakarta. Itu adalah dua alasan sederhana untuk menuliskan 357 halaman biografi yang juga memuat banyak foto sang legenda hidup sejak masa kecil sampai dengan saat ini.
Ini bukan biografi pertama bagi Titiek Puspa. Pada 2004 lalu, ia juga meluncurkan biografinya yang dituliskan oleh wartawan Kompas, Ninok Leksono. Meskipun bukan yang pertama, A Legendary Diva ini menjadi spesial karena gaya penulisannya yang berbeda.


“Ada perbedaan antara yang ditulis Ninok dan Alberthiene. Ninok menuliskannya dengan cara lelaki, kebanyakan berupa data, baik data hidup maupun data lagu. Kalau Alberthiene, dia menceritakan seperti perempuan menceritakan perempuan, jadi ada sentuhan perempuannya,” kata perempuan yang disapa dengan sebutan mbak, tante, dan eyang ini.
Tidak terlalu lama waktu yang dibutuhkan Alberthiene untuk menuliskan biografi ini. Eyang, demikian Alberthiene menyapa perempuan kelahiran 1 November 1937 ini, begitu lancar bercerita.
“Kalau Eyang cerita, yang sedih justru saya. Sesedih apa pun ceritanya, Eyang masih bisa ngakak,” kata Alberthiene mengenang.
Buku yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama ini menceritakan kisah hidup Titiek secara mendetail. Dari ketika ia masih kecil, hidup di zaman penjajahan Jepang yang penuh dengan penderitaan, memulai hidup sebagai penyanyi, sampai dengan ketika ia menyaksikan satu per satu penerusnya lahir. Namun, ia tidak tergerus oleh zaman.


Masyarakat masih bisa menikmati karya perempuan yang dilahirkan dengan nama Sudarwati ini. Dan biografi ini, bagi Titiek adalah sebuah pelajaran berharga bagi pembacanya.
“Saya ingin memperlihatkan kepada anak-cucu bahwa Eyangnya ini adalah seorang pekerja, saya didik oleh orang tua untuk bekerja. Betapa anak sekarang ini dilengkapi dengan semuanya, fasilitas ada, orang tua men-support,” katanya.
Meskipun banyak hal yang membanggakan terjadi dalam hidupnya, terlalu banyak pula yang akhirnya ia saring sendiri ketika Alberthiene telah menuliskannya.


“Banyak screening, yang kelihatan berlebihan, yang kelihatan sombong, jadi nanti kalau ada tulisan yang belum ter-screening, saya mohon maaf,” kata Titiek yang pernah menikah dengan tiga laki-laki ini. Padahal, hal-hal yang disaring itu, menurut Alberthiene, adalah sebuah kewajaran bagi seorang Titiek Puspa.
“Eyang ini tidak sadar kalau dia adalah seorang bintang.” (mila novita)

dari : sinarharapan.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: