LA Lights Indiefest,Tempat Layak bagi Kemerdekaan Ekspresi Anak Muda

Oleh
John JS

Jakarta – Kini berbagai grup band independen (indie) anak muda sudah punya tempat layak. Artinya, tak sekadar ada label rekaman tersendiri, tetapi memiliki festival pertarungan nasib baik di arena LA Lights Indiefest yang telah menuju tahun ketiga.


Para finalisnya sudah menikmati dunia rekaman dengan album kompilasi, dan tiga grup band terbaik bersukacita dengan kontrak produksi album solo.
Paling menggembirakan dari segalanya, kompetisi Indiefest yang didukung penuh oleh PT Djarum, tak membatasi ekspresi para pelakunya (freedeom of expression). Beragam genre musik diperbolehkan masuk, tanpa ia harus “diganggu” keramaian pasar pop di tengah masyarakat. Kualitas musikal dan kesanggupan berelaborasi begitu terbuka di sini.
“Kami memfasilitasi kreativitas dan ide masing-masing grup band, tanpa batasan ketat. Kalau selama ini yang dihargai adalah semua yang mainstream, maka Indiefest terbuka bagi berbagai genre,” kata Selly Asril dari PT Djarum.


Sejauh ini, ditambahkan Selly, Indiefest menampung semangat band-band indie dalam membentuk cutting-edge terkini, agar musik Indonesia bisa lebih baru. Spirit semacam itu tak cuma hiasan kata-kata, karena terbukti dari keragaman genre musik yang menjadi muatan di album kompilasi LA Lights Indiefest volume 2. Dimulai dari Britpop, pop, wonder pop, darkly sophisticated, rock alternatif, twee pop, alternatif bebas, hingga metal melodic core.


Para finalis Indiefest 2007 yang terbilang beruntung itu terdiri dari Air Hostess for Vacation asal Pekanbaru, Cascade (Bandung), Cigarettes Nation (Surabaya), Heinrich Manuever (Yogyakarta), Monkey to Millionaire (Bandung), Tunas Bangsa Simphony (Purwokerto), The Morning After (Malang), Scared of Bums (Bali), dan Wind Cries Mary (Bandung).
Makna keberuntungan ini sekaligus membawa kemungkinan besar datangnya perubahan pada tingkatan selera publik. Band-band anak muda juga jadi tak terkekang oleh arahan-arahan pop sendu ataupun ringan. Sejak pertama diselenggarakan, ada persyaratan keikutsertaan di Indiefest, yaitu berupa poin keharusan memiliki orisinalitas lagu, lirik lagu serta aransemennya.


Ini merupakan persyaratan yang serius karena sekarang sudah begitu banyaknya kemiripan di band-band industri lantaran didikte pasar. Lirik lagu juga sudah sering dikotori dengan bahasa perselingkuhan dan hubungan gelap. Di samping itu, ini mungkin paling penting, karena kemerdekaan beraransemen sungguh-sungguh menantang anak muda beradu kreatif serta bergagasan baru.

Terbatas tapi Terbuka
Dalam membuka area penyeleksian, Indiefest memang masih terbilang terbatas karena cuma membuka audisi demo CD di empat kota, yaitu Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Meski tak menyentuh hingga pelosok daerah, Indiefest tetap terbuka bagi band-band di luar Jawa untuk mendaftarkan diri di empat kota utama itu.
Sehingga salah satu nama seperti Air Hostess for Vacation (Pekanbaru) bisa menjadi bagian album kompilasi LA Lights Indiefest volume 2 yang diluncurkan di Bandung, baru-baru ini, dan bangga diajak berkolaborasi dengan band industrial rock asal Bandung, Koil. Bahkan pemain bas AHFV, Nino, dihadiahi perangkat bas dari Koil. Seakan suatu perhatian kasih sayang yang tulus dari kakak terhadap adiknya.


Segi penyeleksian Indiefest, boleh dibilang punya kekurangan dalam menghampiri calon-calon band papan atas di wilayah kabupaten, tetapi beberapa kelebihan unggul terlihat mulai fase dua penjurian yang menyaring 30 grup band di setiap area melalui penampilan video peserta. Di tahapan ini penampilan live, keunikan gaya kostum dan performa sudah ikut menjadi patokan utama. Fase ini memberikan gambaran nilai dari perjalanan selanjutnya menuju semifinal sampai grandfinal.
Paling penting lagi, Indiefest sedari fase 1 penjurian, artinya sudah membantu mempromosikan 400 band yang lolos. Sebab rekaman video mereka, bisa langsung di akses, diunduh atau berbagi ke blog melalui video streaming di http://www.lalightsindiefest.com.
Maknanya pula, video penampilan mereka bisa di-upload di YouTube, sehingga seluruh dunia bisa mengakses dan menyimak grup band peserta Indiefest. “Indiefest adalah sebuah kesempatan untuk bisa dikenal publik dunia dengan kemudahan publikasi,” komentar vokalis band Seringai, Arian 13, yang jadi salah seorang juri utama.

dari : sinarharapan.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: