Marcell “Hidup” dengan “Candu Asmara”

 Oleh : Mila Novita


Jakarta – Mungkin “Candu Asmara” adalah satu-satunya lagu dangdut yang melekat di benak Marcell. Bukan hanya karena goyangan Cici Faramida, penyanyi dangdut yang memopulerkan lagu itu di tahun 1990-an, bukan pula hanya karena kepintaran Guruh Soekarnoputra, pencipta lagu itu, tapi karena pada keduanya.


ni adalah penghargaan saya untuk Om Guruh dan Cici,” kata Marcell dalam sebuah wawancara di Hotel Gran Mahakam, Jakarta, Kamis (13/3).
Bagi Marcell, “Candu Asmara” bukanlah dangdut seperti pada umumnya. “Saya telaah secara musik, ini nggak ada dangdutnya, elektronik banget. Yang membuat lagu ini kayak dangdut karena ada pentatonik (skala lima not per oktaf seperti gamelan Jawa) Jawa. Basnya aja yang dibikin dangdut, kalau basnya diganti, jadi elektronik,” kata Marcell meyakinkan.


Itulah yang dilakukan Marcell ketika menjadikan lagu ini sebagai single pertama di album ketiganya, Hidup, yang dikerjakannya bersama Tohpati. Marcell membuatnya sangat elektro, bahkan video klip yang memasang wajahnya dengan kepala berambut kribo itu pun dibuat sangat elektro, penuh dengan kilauan.
Dan, lagu itu akhirnya membuat orang menengok kembali ke arahnya.
Marcell bukan penyanyi dangdut, dia masih membawa jati dirinya sebagai penyanyi solo pop mellow yang sukses dengan lagu “Firasat” dan “Semusim”. Dua hits dari album pertama, Marcell, itu belum bisa dilupakan orang, meskipun ia sudah pernah menelurkan album kedua, Denganmu, pada 2006.
“Sampai sekarang orang-orang masih meminta saya nyanyiin ‘Semusim’ dan ‘Firasat’, padahal saya udah di album ketiga,” kata Marcell. Mungkin bukan karena dua lagu itu sukses luar biasa, karena albumnya terjual sampai dengan 500.000 kopi, tapi karena orang tidak terlalu mengenal Marcell dengan lagu-lagu lainnya. Diakuinya, penjualan album keduanya tidak sesukses album pertama.


“Kebetulan, album kedua fokusnya peningkatan (kualitas) produksi secara gila-gilaan, idealisme saya. Banyak orang bilang saya bikin jarak dengan album itu,” katanya. Kebetulan pula, di tahun 2006 lalu banyak band baru yang mendobrak pasar musik. Pendengar musik Indonesia memilih mendengarkan Samsons, Nidji, atau (lagi-lagi) Peterpan. Tidak mengherankan jika penjualan album kedua ini benar-benar turun drastis, dari album pertama yang mencapai 500.000 kopi menjadi 40.000 keping saja di album kedua.

Tidak Takut
Tidak takutkah Marcell? Sampai dengan akhir tahun lalu, musik Indonesia masih dirajai oleh band-band baru yang mengusung lagu-lagu bertemakan cinta. Mungkin, alumni Fakultas Hukum Universitas Parahyangan ini tidak terlalu jauh dari tema itu, tapi pasar Indonesia masih terlalu terpesona akan daya pikat band-band baru itu.
“Di album ketiga ini saya harus tulus, nggak boleh ada ketakutan atau kekhawatiran apa pun. Yang pasti, dengan album ini, saya pengen semua orang bisa denger tanpa harus malu-malu, ngumpet-ngumpet, atau dengerin sama ceweknya,” kata Marcell yang sempat tergabung di choir gereja.
Wajar Marcell berkeinginan seperti itu. Banyak orang, terutama laki-laki, yang malu mendengarkan musiknya karena takut dicap mellow. Ia pun mengalaminya. Marcell, di awal karier bermusiknya, bukanlah penyanyi mellow seperti sekarang. Ia adalah penggebuk drum band metal Puppen. Dia pun sempat menerima cemoohan ketika muncul dengan musiknya yang sekarang.


Namun, jangan menyangka Marcell lantas meninggalkan metal. Bersama beberapa teman musikus lainnya, ia membentuk band Kreken. “Itu lebih pada manifestasi ide-ide daripada jadi jerawat atau bikin saya nggak bisa tidur,” kata pemilik nama lengkap Marcellius Kirana Hamonangan Siahaan ini.
Di dua aliran itu, Marcell berada. Namun, ia mengaku masih bisa memberi batasan ketika ia sebagai Marcell atau ketika ia berada di Kreken. “Marcell di pop sebagai penyanyi, Marcell di rock sebagai drumer, dan saya nggak mau mengubah itu karena itu sama saja membohongi diri sendiri,” tuturnya tegas.
Di album ini, sang istri, Dewi Lestari yang mantan personel kelompok vokal Rida Sita Dewi, juga menyumbang satu lagu, “Bukan Lagu Cinta” yang dinyanyikan bersama dengan Karen, penyanyi jebolan Indonesian Idol. “Dia juga yang menentukan siapa yang pantas berduet dengan saya,” katanya. Kebetulan, Karen adalah pacar adiknya, jadilah duet itu berlangsung, meskipun awalnya Marcell ingin berduet dengan Ning Baizura, penyanyi asal Malaysia. “Tapi karena kesibukan Ning dan permasalahan teknis, label, akhirnya nggak jadi,” katanya.

dari : sinarharapan.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: