Musik untuk Bencana

JAKARTA – Lagu bisa menjadi sarana untuk menyosialisasikan banyak hal, termasuk kesiapan menghadapi bencana. Coba simak syair lagu yang diciptakan oleh Naif:

Kalau ada gempa lindungi kepala/
kalau ada gempa ngumpet di kolong meja
/kalau ada gempa jauhi dari kaca/
kalau ada gempa lari ke lapangan terbuka…

Isinya adalah tindakan pertama manakala gempa mulai mengguncang. Lagu yang sederhana dan bersahaja dengan lirik yang mudah dicerna ini benar-benar membantu peningkatan kesadaran masyarakat akan kesiapan menghadapi bencana.
“Kalau tak salah, sekitar tahun 2004 mereka membuat lagu itu. Setelah mengikuti program Community Preparedness yang dilakukan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia – red) di beberapa daerah Indonesia,” ungkap Koordinator Edukasi Publik Community Preparedness (Compress) Irina Rafliana, Selasa (1/4).


Tentu saja, apa yang diperbuat Naif harus diacungi jempol. Dengan lagu itu, tercatat setidaknya 30.000 orang dalam satu tahun ini, dianggap telah memahami konsep bersiap dari bencana. Berawal dari kesuksesan tersebut, Compress kemudian melakukan kerja sama lanjutan dengan beberapa musisi lain. Namun, mengumpulkan para musisi bukanlah perkara mudah. Untungnya pihak manajemen Naif, Electrified, mau membantu kelancaran proses itu. Sampai akhirnya, Senin (31/3) lalu, terkumpul 14 pemusik di Indonesia untuk mengegolkan niat ini.


Naif, Samsons, Netral, White Shoes, Mocca, Efek Rumah Kaca, 70 ‘OC, Navicula, Franky Sahilatua, The Upstairs, St Loco, Buset, Ronaldisko dan NGM menyatakan kesediaannya untuk turut bergabung.
Arina, vokalis dari Mocca mengapresiasi niat ini. “Rasanya senang bisa membantu melalui kemampuan yang kami bisa,” ucapnya, di sela workshop yang kemudian dilaksanakan untuk menyiapkan artis membuat lagu, pada hari yang sama.

Lokakarya
Dalam lokakarya tersebut, ada beberapa komponen kesiapsiagaan terhadap bencana yang diperkenalkan, seperti proses alam, potensi, korban, mencegah, paradigma (pola pikir), peduli, informasi, ancaman, bencana dan siaga.
Bagi para musisi, membuat lagu berdasarkan komponen-komponen tersebut bukan hal yang sulit. Kelompok Rio dari 70 ‘OC dan Ricky dari Mocca beserta personel dari Buset dan David dari Naif, dengan lancar menghasilkan lagu baru berjudul “Ombak Puyeng”.
Lagu ini terinspirasi ombang besar akibat tsunami. “Selain puyeng kena ombak, masyarakat Indonesia ikut puyeng juga menghadapinya,” tutur Ricky dari Mocca.
Para musisi itu bersepakat membuat kompilasi lagu-lagu, dan album tersebut akan diserahkan pada LIPI.
“Semoga akhir April ini kompilasi album bisa diciptakan,” tambah Irina.
Hery Harjono, Deputi Ilmu Kebumian LIPI, menghargai upaya ini mengingat masyarakat harus menyadari perlunya bersiap dari bencana. “Di Indonesia bencana sebenarnya bisa datang kapan saja. Kondisi wilayah dan keburukan manajemen pemerintahan, jelas makin membuat tingginya potensi tersebut,” paparnya.
“Jadi, tak ada upaya lain untuk mengurangi dampak dari bencana itu. Selain membuatnya menjadi sahabat kita,” paparnya menanggapi.(sulung prasetyo)

dari : sinarharapan.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: