Lewat Antologi Lagu, Suntikkan Energi buat Negeri

Arief J Wicaksono

Oleh
Wahyu Dramastuti

JAKARTA – ”Leny, please aku ingin tahu biaya masuk sekolah. Kalo sakit, dokter dan obatnya berapa? Cukupkah kita untuk merawat Una di negeri ini… Manusia di sini mulai tak manusiawi dan kebenaran mulai jadi barang opini.

Bisakah kita melindungi Una di negeri ini…?”
Petikan lagu karya Bimbim (grup band Slank) berjudul “Indonesiakan Una” itu menggugah hati Arief J Wicaksono, yang kemudian menuangkan dalam bukunya, Simfoni Indonesia—Antologi Lagu untuk Negeri. “Indonesiakan Una” melengkapi puluhan lagu lain yang didokumentasikan Arief dalam buku tersebut, yang semuanya mengangkat tema cinta Tanah Air.
Tak bisa disangkal, buku bersampul merah putih itu menunjukkan betapa Arief mencintai tanah kelahirannya, Indonesia. Melalui karya tersebut, ia mengajak semua orang untuk melihat Indonesia dari berbagai perspektif, termasuk bineka tunggal ika yang bisa menumbuhkan rasa toleransi antarsesama warga.
Rupanya, Arief terlahir dari keluarga militer. Ayahnya adalah anggota purnawirawan TNI berpangkat Letkol, yang selalu bercerita tentang Tanah Air kepada delapan anaknya. Namun sang ayah juga menyukai musik. Dua hasrat yang mengalir dalam diri sang ayah itulah yang kemudian tertancap di lubuk hati anak-anaknya.


Apakah itu yang kemudian mendorong Arief membuat antologi lagu? “Ya, sebab perlu direnungkan, sebuah orkestra bangsa itu seperti apa? Menjadi konduktor bangsa itu seperti apa? Karena alat musik bangsa ini berbeda-beda, tetapi tetap harus menjadi satu,” tutur Arief ketika bertandang di Redaksi Sinar Harapan, baru-baru ini.
Ia mencatat sebetulnya lagu-lagu bertema kebangsaan dan nasionalisme tidak hanya ditulis oleh generasi ‘45 seperti Cornell Simanjuntak, Usmar Ismail, WR Supratman, dan Ibu Sud. Karya dengan napas serupa yang menyoroti kondisi Indonesia pascamerdeka, juga banyak ditulis oleh musisi yang kemudian diluncurkan dalam bentuk rekaman.


“Tetapi karya yang ‘disosialisasikan’ sebagai menu utama pada perayaan HUT Kemerdekaan RI selalu dimonopoli karya generasi ‘Indonesia lama’. Ini pasti karena karya generasi ‘45 telah dibukukan, sedangkan karya generasi baru masih tercecer,” ungkap Arief. Untuk itulah, ia merangkum hasil karya generasi baru—Arief menyebut generasi industri rekaman—ke dalam buku setebal 254 halaman. Di antaranya lagu karya Iwan Fals, Guruh Soekarno Putra, Ully H Rusady, Sawung Jabo, Ebiet G Ade, Erros (Seila on 7), dan Armand Maulana (Gigi).

Keaslian Lagu Terjaga
Mungkin karena mencintai dunia sastra pula, Arief yang ayah dari Aljudzan Faza Dinan (8) dan Ariqa Nada Taftazani (3) ini, membagi buku itu dalam delapan episode. Pada setiap episode diawali dengan esai lirik. Tujuannya, selain sebagai pengantar, juga untuk menggugah spirit. “Untuk melejitkan energi baru: Indonesia!” tegasnya.
Seluruh lagu dibuatkan partitur dan chord, berikut nama pencipta, penyanyi, serta kelompok musiknya. Bahkan dilengkapi keterangan kapan lagu itu beredar, dan apakah sudah dibawakan oleh penyanyi yang lain. Judul album, perusahaan perekam, sampai angka tahun peluncuran album pun dituliskan. Dan demi memudahkan mencerna makna lagu itu, disediakan kolom khusus riwayat lagu oleh musisi dan pihak lain yang mengetahui proses penciptaan karya tersebut.
Supaya pembaca tidak merasa bosan, Arief menyelingi tulisannya dengan intisari lagu dan penggalan bait-bait lagu, sedangkan partitur not balok disusun berdasarkan rekaman asli yang terdapat pada album kaset, piringan hitam (PH), dan compact disc (CD). Penyusunan notasi balok dan chord dilakukan dengan tetap menjaga keaslian lagunya; bisa dimainkan dengan gitar maupun piano.


Suami dari Nina Ratna Suminar ini berusaha menyuntikkan energi untuk Indonesia, tanpa mengingkari fakta yang terjadi. Simaklah tulisannya,
“Ketika dahulu dengan modal puluhan sarjana dan rakyat hampir 60 juta, Indonesia mampu merdeka. Kini dengan bekal ratusan ribu sarjana, profesor, ribuan doktor dan rakyat hampir empat kali lipat, Indonesia sepatutnya bertambah hebat dalam mewujudkan kemakmuran. Tapi faktanya, Indonesia justru terseok-seok dan pantas dikasihani.”
Meski begitu, kerinduan akan Indonesia yang maju dan gemah ripah loh jinawi, membuat Arief tetap bersemangat. Ia membangkitkan optimisme semua warga Indonesia untuk mengisi kemerdekaan, seperti terlihat dalam episode 5, Legenda Putra Pertiwi “Konglomerat Nurani, Pewaris Elok Pekerti”. Menurutnya, istilah konglomerat tidak hanya untuk orang-orang yang kaya materi, tetapi juga untuk mereka yang kaya nurani dan budi pekerti. n

dari : sinarharapan.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: