Bob Dylan Dianugerahi Pulitzer


New York – Berkat Bob Dylan, rock ‘n’ roll akhirnya mendobrak dinding Pulitzer. Dylan, penulis lagu yang paling dipuji dan sangat berpengaruh pada separo abad ini, yang membawakan rock dari jalanan hingga ruang kelas, menerima Penghargaan Pulitzer yang bergengsi, Senin (7/4), karena “pengaruh mendalamnya terhadap musik dan budaya Amerika populer, ditandai komposisi lirik dari kekuatan puitik yang sangat luar biasa.”
Ini untuk pertama kalinya para juri Pulitzer, yang merindukan musik klasik dan jazz, memberi penghargaan sebuah bentuk seni yang pernah dicap sebagai barbar, dan bahkan subversif.


“Saya tidak mempercayainya,” kata penggemar Dylan dan juga pemenang Pulitzer, Junot Diaz, saat pemberian penghargaan Dylan.
Karya Diaz, “The Brief Wondrous Life of Oscar Wao,” sebuah cerita tragis, tetapi humoris tentang nafsu, politik dan kekerasan di antara rakyat Dominika di kampung halaman dan di Amerika Serikat, memenangkan penghargaan fiksi.
“Saya kerap buntu dan merasa ragu-ragu,” katanya kepada The Associated Press tentang proses penulisan, dan itu termasuk bagian tentang Dylan.
“Bob Dylan adalah masalah bagi saya,” kata Diaz, yang juga menerbitkan kumpulan cerpen. “Saya mempunyai satu bagian sepanjang 40 halaman, dan seluruh bab dirancang mengenai lirik Bob Dylan selama periode dua tahun (1967-69). Pada bagian akhir, saya ingin menutup kekaguman saya kepada Bob Dylan.”


Pulitzer untuk drama diberikan kepada Tracy Letts’ “August: Osage County” yang seperti novel Diaz, mengombinasikan komedi dan kekejaman. Letts menyebut dramanya “otobiografi longgar,” tentang pertarungan sebuah keluarga yang merentang selama beberapa generasi tentang ketidakbahagiaan dan mimpi-mimpi yang tak tercapai.
Kemenangan Dylan tidak berarti bahwa Pulitzer telah melupakan komposer klasik. Penghargaan untuk musik diberikan bagi “The Little Match Girl Passion,” karya David Lang yang membuka konser di Carnegie Hall, tempat Dylan juga tampil.
“Dylan adalah artis yang kerap bermain dalam konser saya jadi penghargaan yang saya terima di saat bersamaan dengan Bob Dylan adalah membanggakan,” kata Lang kepada AP.
Lama setelah kebanyakan teman-temannya seusianya wafat, meninggalkan bisnis atau terikat pada nostalgia masa lalu, Dylan terus melakukan tur dan melansir CD-CD baru yang dipuji. Para penggemar, kritikus dan akademikus terobsesi pada lirik-liriknya, sejak pertengahan 1960-an, ketika lagu-lagu protes seperti “Blowin’ in the Wind” menasbihkan Dylan sebagai seorang penyair dan nabi bagi generasi pemberontak.
Lagu-lagunya memasukkan acuan Injil dan ia mengakui Chekhov, Walt Whitman dan Jack Kerouac sebagai orang-orang yang mempengaruhinya. Memoirnya, Chronicles, Volume One, menjadi unggulan National Book Critics Circle pada 2005 dan diakui sebagai buku selebritas yang langka yang bisa dijadikan karya literatur. (ap/ida)

dari : sinarharapan.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: