Gambus Jawa

Jum’at, 25 Juli 2008 | 14:18 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Panggung terasa aneh untuk sebuah pertunjukan musik gambus. Ada sosok kepala burung garuda. Ditopang bilah bambu, ia berdiri gagah di antara beragam alat musik Jawa, seperti kendang, siter, gong, kenong, dan kempul. Sosok lelaki bertubuh besar, ada di antaranya. Sebuah syair lalu mengalun dengan cengkok bahasa Tegalan, berselang-seling dengan Surakartanan.

Garuda Pancasila adalah kekuatan nurani kebangsaan kita
Ia dilahirkan dari nilai-nilai universal yang muncul di jagad ini…
Tapi Sang Garuda Pancasila pun tak lagi terbang tinggi
Sangkar emasnya kelihatan berkarat
Matanya menatap sayu melihat rakyat Indonesia terbelenggu dalam pikiran yang terkotak-kotak dan mulai terpecah-pecah…

Slamet Gundono melantunkan syair itu bersama penari gambyong, Nyi Ida, di Teater Arena, Kompleks Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, Sabtu lalu. Ia tampil bersama kelompok yang digawanginya, Komunitas Gambus Jawa. Slamet mengemas pertunjukan itu dalam tema besar “Konser Garuda Pancasila”.

Layaknya pertunjukan musik gambus, rasanya belum lengkap bila tanpa zapin. Nah, biasanya zapin ditarikan oleh penari laki-laki yang berjingkat-jingkat dan berputar, bahkan ditambah penari perut. Dalam pertunjukan ini, penari klasik Jawa itulah yang berperan sebagai penari zapin.

Musik gambus, yang dianggap penting dalam nyanyian Ghazal asal Timur Tengah oleh Gundono, dimainkan bareng musik Jawa ala campursari. Ia menyebutnya sebagai perpaduan ekstrem. Gamelan yang terdiri atas banyak alat musik, dengan bunyi yang berbeda-beda dalam nada pentatonis, dipadu dengan permainan alat musik petik gambus yang memiliki tangga nada diatonis. Itu menghasilkan tinggi nada yang sama. “Dan menghasilkan keindahan irama,” kata Gundono, yang dikenal sebagai dalang wayang suket.

Gambus, semacam gitar dengan punggung cembung, dimainkan oleh Musthofa al-Habsyi, tapi instrumen lain yang biasa mengiringi gambus diganti seadanya. Alat musik marawis, misalnya, diganti dengan terbang atau rebana Jawa.

Kolaborasi irama gamelan Jawa yang mendayu dan terdengar sayup-sayup itu mengiringi entakan rebana dan petikan gambus. Sebuah kolaborasi kontemporer yang dibuat rancak dengan tempo yang kadang lambat, kadang cepat, dan intonasi yang kadang tinggi kadang rendah.

Tariannya pun tak hanya gambyong, ada pula tari Jatayu (Samin), yang menggambarkan keperkasaan burung garuda, dan tari perut ala penari Alvera lengkap dengan gemerincing sendok yang menggantung di ujung gaunnya. Tak ketinggalan pula penari kontemporer Mugiyono Kasido, yang unjuk kebolehan menari Garuda Hijau. Semua diiringi Gambus Jawa.

Penyanyi Franky Sahilatua dan Sawung Jabo pun tak ketinggalan. Franky menyanyikan lagu Jawa, tapi olehnya disebut sebagai langgam Ambon. Sawung Jabo melantunkan dua lagu. Salah satu lagunya, Goro-goro, yang diciptakan menjelang Presiden Soeharto lengser, diiringi gamelan kontemporer.

Penonton yang berjubel mengitari panggung dibuat terpana saat Waljinah, penyanyi keroncong kawakan, menyanyikan lagu lamanya, Walang Kekek, yang digubah Wahyu Santosa Prabawa, dosen karawitan di Institut Seni Indonesia, Surakarta. Judulnya berubah menjadi Walang Kekek Garuda Pancasila.

Walang kekek, walange pari/Walang pari mencok neng lemah/Entek amek ngrayah lan mbathi/Dha korupsi njarah serakah
Walang kekek, walange ireng/Walang ireng mencok neng meja/Pancasila wis ra dipandeng/Sang Garuda wis ra disana
E ya eyo ya eyo.’.

Sayang, pertunjukan itu dikemas kurang apik. Besar Widodo, bekas pemusik Kua Etnika sekaligus penari, yang kini aktif di Yayasan Bagong Kusudiardjo, melihat pertunjukan itu seperti dipaksakan. “Idenya bagus, tapi mungkin belum waktunya pentas. Beberapa kali pemusiknya kebingungan. Dari situ, yang saya dapat hanya suasana Jawa.” LN IDAYANIE | PITO AGUSTIN RUDIANA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: