Spirit Jazz Aceh

Minggu, 27 Juli 2008 | 17:52 WIB

TEMPO Interaktif, Banda Aceh: Jumat malam, 18 Juli. Daniel E Perell tak tahan sekedar duduk diam di ruang pertunjukan. Malam kian larut, saat ia mulai mengoyangkan kepala, kaki dan bertepuk tangan untuk para pemain piano, bass, guitar, clarinet dan saxophone yang mengiringi Ayi Puspita Handayani, 25 tahun, pelantun lagu milik The Groove berjudul Dahulu.

“Hari ini saat yang kunanti/satu malam bertemu denganmu/tiada pernah coba kau lupakan”

Di atas pentas tanpa gemerlap cahaya lampu dan dekorasi, gadis setengah menari. Tangannya digerakkan menyerupai ombak dan menarik pelan mikropon yang seakan mengincar bibirnya. Puluhan penonton yang berada di sisi kiri pangung spontan berdiri, melantunkan lirik lagu dan berdendang bersama. Tak hanya muda-mudi Aceh dalam kerumunan itu, tapi juga warga negara asing para pekerja kemanusian.

“Ini kesempatan baik untuk musisi Aceh mengekspresikan musiknya,” kata Parell, pemuda asal Boston, Amerika Serikat, diujung Khanduri Jazz. Khanduri dalam bahasa Aceh berarti santap bersama.

Ini memang bukan kenduri yang jamak dilakukan masyarakat Aceh. Tak ada gelimangan makanan, yang ada hanya nada. Tiket seharga Rp 55.000 memang terbilang mahal untuk ukuran pagelaran musik bertaraf lokal, namun tak tersia. Gedung Sultan II Selim, Ruang Confrence, Aceh Community Centre yang berkapasitas 300 pengunjung penuh. Sebagaian penonton rela duduk di tanga dan lantai.

Khanduri jazz ketiga ini dimeriahkan Moritza Thaher Combo, Virtuo II, Maestro, Taloe Band dan Sekolah Musik Moritza Jazz Band. Seluruhnya band lokal. Dalam waktu tiga jam acara, penonton di suguhi jenis smoot, swing, fusion, etno, sampai modern jazz.

Jazz bukan jenis musik yang karib pada pendegaran masyarakat Aceh. Namun penonton tak beranjak dari tempat pertunjukan sebelum acara selesai. Pasalnya dari 25 penampilan, enam diantara lagu daerah dan empat lagu hit Indonesia saat ini. Selebihnya, lagu mancanegara.

“Luar biasa. Biasanya pendengar musik di Aceh paham lirik baru menyelami lirik, tapi tadi penonton bisa menikmati istrumen,” kata Deni Syukur, pemain Guitar, Virtual Duo.

Khanduri Jazz diselenggarakan Radio Antero, Sekolah Musik Moritza, Rumah Musik Cibloe dan Komunitas Maestro. Sukses merebut perhatian masyarakat, para musisi bersepakat khanduri akan dilaksanakan saban bulan. “Tentu dengan hidangan yang lebih beragam,” tulis Moritza Thaher dalam pernyataan persnya.

November tahun lalu, khanduri jazz menghadirkan Lou G Band-asal Belanda. Band yang beranggotakan Lou Guldemond (guitar/vocal), Arjen Mooijen (keyboard), Tom Beek (saksofon), Sandra Sahupala (perkusi/vocal), Boudewijn Lucas (bass), Danny Sahupala (drum) dan Marylayne Sahupala (vocal), menghibur ratusan pengunjung di tempat yang sama. Inilah khanduri pertama yang digelar selepas tsunami.

Khanduri jazz sebenarnya agenda tahunan yang diseting komunitas Musik Aceh Sinergi Tradisi Modern Orkestra (Maestro). Khanduri digelar pertama sekali Februari 2004 di Hotel Kuala Tripa dengan sokongan Radio Prima FM. Namun konflik dan tsunami, menghalau para rencana para musisi. MAIMUN SALEH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: